Pembekalan Masa Vassa 2570/2026 Pertemuan Ketiga, Bhante Santacitto Thera Mengupas Suttanipāta 1.4: Kasibhāradvājasutta

Senin, 17 Agustus 2026 — Rangkaian Pembekalan Masa Vassa 2570/2026 berlanjut dengan pembahasan Suttanipāta 1.4: Kasibhāradvājasutta yang disampaikan oleh Y.M. Bhikkhu Santacitto Thera. Sesi ini dimoderatori oleh Y.M. Bhikkhu Cittasīlo dan diawali dengan Namakkāra Pāṭha yang dipimpin oleh Y.M. Bhikkhu Candakaro Mahāthera.

Kasibhāradvājasutta mengisahkan perjumpaan Sang Buddha dengan seorang petani bernama Brahmana Kasibhāradvāja. Dalam perjumpaan tersebut, ia mempertanyakan bagaimana Sang Buddha dapat disebut “bertani”, karena tidak melihat adanya peralatan pertanian yang digunakan oleh beliau.

Sang Buddha kemudian menjelaskan bahwa “bertani” yang dimaksud bukanlah kegiatan pertanian dalam pengertian duniawi, melainkan perumpamaan tentang praktik pengembangan batin. Berbagai unsur dalam kegiatan bertani digunakan untuk menggambarkan bagian-bagian penting dalam latihan Dhamma. Saddhā (keyakinan) diibaratkan sebagai benih, tapa (penempaan) sebagai hujan, paññā (kebijaksanaan) sebagai kuk dan bajak, hiri (rasa malu untuk berbuat jahat) sebagai batang bajak, mana (cipta/pikiran) sebagai tali pengikat, serta sati (pengingatan atau perhatian penuh) sebagai mata bajak dan cemeti.

Melalui perumpamaan tersebut, Bhante Santacitto Thera mengajak peserta memahami bahwa sebagaimana seorang petani mengolah lahan dengan peralatan dan ketekunan hingga menghasilkan panen, seseorang pun perlu mengolah dan mengembangkan batinnya melalui keyakinan, kebijaksanaan, perhatian penuh, pengendalian diri, serta usaha yang berkesinambungan. Latihan tersebut pada akhirnya diarahkan pada tercapainya buah praktik Dhamma, yaitu pembebasan hingga Nibbāna.

Pembahasan Suttanipāta bagian selanjutnya, yaitu 1.5—1.10, akan menjadi bagian dari rangkaian materi yang disampaikan bersama Y.M. Bhikkhu Santacitto Thera selama masa Pembekalan Vassa 2570/2026. Melalui pembahasan secara bertahap, peserta akan diajak mendalami sutta-sutta dalam Suttanipāta sekaligus memahami makna ajaran yang terkandung di dalamnya.

Berita Lainnya